Baik tapi Buruk, Buruk tapi Baik

Dalam beberapa bulan belakangan ini, saya sering menemukan berbagai macam perdebatan, bahkan sempat terlibat aktif di dalamnya. Baik secara langsung (face to face), maupun hanya melalui tulisan di beberapa group social network atau jejaring social. Terutama grup diskusi di situs http://www.facebook.com yang memang sudah sangat mendunia. Sebagai salah satu situs yang paling sering dikunjungi oleh pengguna internet dunia setelah http://www.google.com. Begitu kata beberapa badan survey internasional menulis, salah satunya menurut situs Top10.web.id.

Dalam berbagai perdebatan sering ditutup dengan makian. Sungguh disayangkan. Bahkan, yang paling memilukan hati, saat ada yang melempar sebuah stetmen mengenai sebuah masalah, tidak ditanggapi dengan ilmu guna pencerahan bagi yang punya postingan secara khusus dan member grup secara keseluruhan. Melainkan makian, hinaan dan berbagai bentuk intimidasi terhadap akun yang mem-posting kirimannya. Belum lagi mengajak member lainnya untuk ikutan melakukan perbuatan kurang beradab tersebut. Pembenaran terhadap sikap tak berpendidikan dengan menggunakan dalil agama yang menjadikan puncak kekecewaan saya selaku penulis yang juaga anggota dari grup-grup yang demikian. Sungguh sangat ironis, mengingat agama sebagai alat dan juga wadah untuk penyatuan dan pendidikan umat, digunakan untuk memecah belah dan penebar kebencian.

Kesimpulan akhir, mereka saling mengkafirkan. Membeberkan berbagai dalil bahwa lawannya adalah kafir. Mungkin inilah yang menjadi salah satu latarbelakang kenapa seorang kiayi di Nusantara (K.H Hasyim Muzadi) berkata, “Beda antra Wali songo dan Wali jenggot adalh.., wali songo tdk mau mngkafirkan org laen meskipun tahu org itu kafir, karena para wali hnya brfikir bgaiman org itu mngikuti da’wahnya,sedangkan wali jenggot gemar mengkafirkan org laen,akhrnya,,akibat terlalu gemar mngkafrkan org, tanpa sadar dirinya telah menjadi kafir.” Berdasarkan sebuah dalil juga “man kafara fahuwa kafirun…” yang mengkafirkan mereka (juga bisa) kafir.

Memang, terkadang menjadi topik pembicaraan dalam kirimannya itu mengejek bahkan ada yang langsung mengkafirkan sebagian yang lain. Maka tak bisa dielakkan lagi saling mengkafirkan terjadi. Walau itu tidak baik menurut pandangan berdasarkan kapasitas ilmu yang saya miliki. Tapi, banyak juga kiriman-kiriman yang butuh didiskusikan guna mencerdaskan umat yang menjadi member grup.

Sikap adalah kunci pembenaran. Itulah konsep yang diamini oleh kalangan awam yang masih baru masuk secara praktis dalam menonton debat agama. Bagi yang baru-baru, mereka menomor duakan konsep dasar teori material diskusi, toh karena mereka masih awam, baru dan memang kurang pengetahuan. Saat yang demikian menjadi kunci pembenaran, maka pihak yang salah bisa dianggap benar oleh khalayak. Kenapa tidak, karena memang segitulah kapasitas ilmu mereka. Yang mereka cari adalah sosok yang mampu diteladani dari sikap, tidak hanya yang pandai berteori. Dalam bahasa yang lebih mudah dipahami. Sosok santun lebih disenangi dibanding si pandai namun kurang sopan.

Bisa kita bayangkan, manakala ini dijadikan politik dakwah sebagian kaum. “Tunjukkan sikap yang baik walau kita salah dalam konsep. Karena berbuat baik adalah kewajiban, sedang salah dan benar itu penilaian Tuhan. Kita berdakwah sesuai kapasitas ilmu.” Wow. Sekilas pandang, merupakan hal yang baik dan sangat bisa diterima akal. Tapi, benarkah demikian? Image

Entahlah, yang pasti, saat ini saya kurang setuju. Karena dalam dakwah kita wajib bertanggungjawab terhadap ilmu yang diterima oleh para jema’at/ majlis. Secara langsung atau tidak langsung. Maka kebenaran, haruslah yang diutamakan dengan diiringi sikap (praktek) akhlak yang sesuai teori keagamaan bagi pendakwah. Seorang mahasiswa dari Al-Azhar, Kairo berkata, “Saya ragu mereka akan menerima kebenaran yang ditulis dengan kata-kata kotor, sementara akan menerima ketidakbenaran yang ditulis dengan bahasa yang santun dan beradab.”

Yang mengirim postingan di status pribadi maupun di grup adalah pendakwah. Saya sendiri senang menyebutnya “aktivis facebook, aktivis dakwah”.

Berdakwahlah dengan ilmu dan akhlak mu. Bukankah telah nyata dalil utamanya akhlakqul karimah itu? “Sesungguhnya aku dibangkitkan untuk menyempurnakan akhlak yang baik” (Al-hadis). Ilmu yang engkau dapat haruslah benar sesuai tuntunan agama. Supaya mampu dipertanggungjawabkan. Akhlakmu haruslah baik, karena sumber ilmu mu juga berasal dari Rasul yang punya akhlak paling mulia. “Sungguh telah ada suri tauladan pada diri diri Rasul.” Itulah ayat sebagai dalil agar kita semua benar-benar mengikuti teladan kita. Maka berdakwahlah dengan baik. Tugas kita hanya berdakwah, sebagai usaha, dan juga do’a agar selalu istiqamah dalam dakwah. Selanjutnya ilham dari Allah bagi yang didakwah, cukup kita serahkan kepada sang pemberi ilham.

 

Wallahu a’lam bis sawab

 

Azis bin Azwardi

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s